Judul Penelitian

EFEKTIVITAS EKSTRAK DAUN DEWA (Gynura divaricata) SEBAGAI ANTIOKSIDAN ALAMI DALAM MENETRALKAN DAMPAK PAPARAN MIKROPLASTIK

Abstrak

Mikroplastik adalah partikel kecil <5mm akibat degradasi plastik yang dapat meningkatkan radikal bebas dan memicu stres oksidatif, bahkan berpotensi menyebabkan kanker jika terakumulasi dalam tubuh. Salah satu upaya pencegahan dengan memanfaatkan antioksidan alami pada daun dewa (Gynura divaricata). Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efektivitas ekstrak daun dewa sebagai antioksidan alami dalam menetralkan radikal bebas akibat paparan mikroplastik, pengujian aktivitas antioksidan ekstrak daun dewa menggunakan Spektrofotometer UV-Vis, dan analisis mikroplastik pada feses. Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan menggunakan metode true experimental. Sampel menggunakan 20 ekor mencit (Mus musculus) jantan umur 2,5 bulan dengan berat 25-30 gram dibagi menjadi 4 kelompok, masing-masing berisi 5 ekor. KI tanpa perlakuan, KII diberikan perlakuan mikroplastik dosis 0,084 mg/hari, KIII dan KIV diberikan perlakuan mikroplastik dosis 0,084 mg/hari dan ekstrak daun dewa dosis 105 mg/kgBB dan 210 mg/kgBB selama 14 hari. Analisis feses dilakukan hari ke-0, 7, dan 14. Berdasarkan hasil pengukuran, ekstrak daun dewa menunjukkan aktivitas antioksidan sangat kuat dengan nilai IC50 sebesar 10.06. Setelah 14 hari perlakuan, analisis kadar MDA darah menggunakan uji One-way ANOVA menunjukkan ekstrak daun dewa tidak berpengaruh signifikan terhadap rerata kadar MDA antar kelompok (p=0,670). Hasil pengujian mikroplastik pada feses menunjukkan KI memiliki rerata partikel mikroplastik tertinggi, berbanding terbalik dengan hipotesis, sementara KIV memiliki rerata partikel terendah, sesuai dengan hipotesis. Dapat disimpulkan bahwa antioksidan dalam ekstrak daun dewa memiliki pengaruh terhadap kadar MDA darah, meskipun perbedaan yang diperoleh tidak signifikan secara statistik. Paparan mikroplastik sulit dihindari, meskipun mikroplastik dapat dikeluarkan melalui feses namun sebagian tetap berpotensi tertinggal di dalam tubuh.

Kata kunci: Mikroplastik, Ekstrak Daun Dewa, MDA, Feses, Mencit.

Pendahuluan

Menurut Kementerian Kesehatan (2023), plastik yang terpapar sinar matahari dalam waktu lama dapat terfragmentasi menjadi partikel mikroplastik berukurang <5 mm. Studi internasional terbaru pada jurnal Environmental Science & Technology (Paripurna, 2024) yang melaporkan bahwa mikroplastik diidentifikasi keberadaanya dalam tubuh manusia di 109 negara. Dalam studi tersebut, Indonesia dilaporkan menempati posisi atas dalam tingkat konsumsi mikroplastik sekitar 15 gram per bulan. Selain itu, International Pollutants Elimination Network (2024) melaporkan bahwa Indonesia menempati peringkat ketiga dalam paparan mikroplastik global dengan menyumbang 3,4 juta metrik ton per tahun.

Mikroplastik dapat masuk ke rantai makanan manusia melalui berbagai sumber, seperti di udara, tanah, hingga air. Bahkan, paparan mikroplastik bisa terkonsumsi oleh hewan melalui makanannya. Sebuah penelitian terbaru oleh Simanjuntak et al (2024) mengungkapkan bahwa partikel mikroplastik yang tertelan akan masuk ke dalam sistem aliran darah, lalu didistribusikan ke seluruh tubuh. Sebagian mikroplastik yang tertelan dapat dikeluarkan melalui feses, namun sebagian lainnya berpotensi tetap tertinggal di dalam tubuh (Asher, 2023) dan dapat menimbulkan dampak negatif. Hal ini memungkinkan mikroplastik terakumulasi di berbagai sistem organ tubuh dan dapat memicu penyakit respon seluler seperti peningkatan radikal bebas terhadap antioksidan, yang dapat mengakibatkan stres oksidatif sitotoksitas, dan inflamasi (Deng et al., 2017 dalam Simanjuntak et al., 2024). Peningkatan stres oksidatif yang terus meningkat akibat radikal bebas ini dapat menyebabkan kanker (Siloam Hospitals. 2024) dan otomatis meningkatkan kadar MDA dalam tubuh. MDA (Malondialdehyde) adalah indikasi adanya stres oksidatif yang dapat menghancurkan aktivitas radikal bebas di dalam sel. Akumulasi radikal bebas dalam tubuh dapat memicu peningkatan stres oksidatif baik secara langsung maupun tidak langsung. Jika dibiarkan, stres oksidatif dapat merusak sel, bahkan berpotensi memicu kanker.

Untuk mengatasi dampak negatif akibat stres oksidatif yang diinduksi mikroplastik, perlu dilakukan pendekatan alami melalui pemanfaatan antioksidan alami. Antioksidan memiliki kemampuan untuk melindungi sel dari efek berbahaya radikal bebas (Nurkhasanah dkk., 2023) yang terbentuk akibat paparan mikroplastik. Daun dewa (Gynura divaricata) diketahui memiliki kandungan antioksidan alami yang tinggi. Daun dewa dikenal mengandung banyak senyawa aktif, salas satunya adalah flavonoid yang merupakan antioksidan kuat untuk melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat paparan radikal bebas (HMK ITERA, 2025).

TOP

Tujuan Penelitian

  1. Mengetahui pengaruh antioksidan pada kandungan daun dewa dalam menetralkan dampak paparan mikroplastik pada mencit jantan galur Balb/C.
  2. Membandingkan efektivitas pemberian ekstrak daun dewa terhadap kadar MDA darah antar kelompok.
  3. Menganalisis pengaruh pemberian ekstrak daun dewa terhadap jumlah partikel mikroplastik pada feses antar kelompok pada hari ke-0, 7, dan 14.
TOP

Metode Penelitian

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli 2025–Agustus 2025 di Integrated Biomedical Laboratories (IBL) Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Semarang.

Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang menggunakan metode penelitian true experimental. Metode true experimental adalah metode eksperimen yang dirancang untuk melihat hubungan sebab-akibat antara variabel bebas dan variabel terikat dengan kontrol yang ketat terhadap variabel luar yang dapat mempengaruhi hasil, dan adanya kelompok kontrol sebagai pembanding untuk memastikan hubungan sebab-akibat antar variabel dengan kelompok eksperimen yang diberi perlakuan. Desain penelitian yang digunakan untuk MDA (Malondialdehyde) adalah post-test only control group design, sedangkan desain untuk pemeriksaan partikel mikroplastik pada feses adalah pre-test and post-test only control group design.

Sampel Penelitian

Penentuan sampel didasarkan pada perhitungan menggunakan rumus Federer (Aprilya dan Lubis, 2019). Sampel dikelompokkan secara acak menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dan dibagi menjadi 4 kelompok. Sampel yang telah dikelompokkan dimasukkan ke kandang sesuai kelompok masing-masing. Kandang diberi label sesuai dengan kode nama kelompok masing-masing (nama kelompok yaitu KI, KII, KIII, dan KIV). Pembagian 4 kelompok tersebut adalah:
KI : 5 mencit normal yang diberi pakan standar dan minum tanpa diberikan perlakuan
KII : 5 mencit yang diberikan perlakuan mikroplastik dengan dosis 0,084 mg
KIII : 5 mencit yang diberikan perlakuan mikroplastik dengan dosis 0,084 mg dan ekstrak daun dewa sebesar 105 mg/kgBB
KIV : 5 mencit yang diberikan perlakuan mikroplastik dengan dosis 0,084 mg dan ekstrak daun dewa sebesar 210 mg/kgBB

Penentuan Dosis Mikroplastik

Dosis mikroplastik pada penelitian ini menggunakan dosis tertinggi dari penelitan sebelumnya oleh Simanjuntak dkk. (2024). Dosis mikroplasik tertinggi yang digunakan dalam penelitian tersebut adalah 0,6 mg/hari. Penelitian tersebut menggunakan Rattus norvegicus Strain Wistar sebagai hewan coba, sehingga dosis telah dikonversi dari dosis tikus ke dosis mencit. Nilai konversi adalah 0,14. Perhitungan konversi dosis dihitung sebagai berikut:
Dosis mikroplastik pada tikus= 0,6 mg/hari
Konversi dosis tikus ke mencit= 0,14
Dosis mikroplastik untuk mencit= 0,6 mg/hari × 0,14 = 0,084 mg/hari

Penentuan Dosis Daun Dewa

Dosis daun dewa menggunakan dosis dari penelitan sebelumnya oleh Partomuan dan Jusup (2016). Dosis yang digunakan dalam penelitian tersebut adalah 750 mg/kgBB. Penelitian tersebut menggunakan tikus Sprague Dawley betina sebagai hewan coba, sehingga dosis telah dikonversi dari dosis tikus ke dosis mencit. Nilai konversi adalah 0,14. Perhitungan konversi dosis dihitung sebagai berikut:
Dosis daun dewa pada tikus= 750 mg/kgBB
Konversi dosis tikus ke mencit= 0,14
Dosis dan dewa untuk mencit= 750 mg/kgBB × 0,14 =105 mg/kgBB

Pada penelitian ini menggunakan 2 dosis untuk Dosis kedua adalah 2 kali dosis pertama, sehingga dosis kedua memperoleh hasil 210 mg/kgBB. Dengan demikian, dosis I adalah 105 mg/kgBB dan dosis II adalah 210 mg/kgBB. Dosis I (dosis kecil) digunakan untuk KIII, sedangkan dosis II (dosis besar) digunakan untuk KIV. Pemberian ekstrak daun dewa ini diberikan secara bersamaan dengan mikroplastik selama 14 hari perlakuan.

Variabel Penelitian

Variabel bebas yang dipakai dalam penelitian ini adalah jumlah pemberian ekstrak daun dewa (Gynura divaricata) dengan dosis 105 mg/kgBB/hari dan 210 mg/kgBB/hari selama 14 hari perlakuan.

Variabel terikatnya adalah kadar MDA dan jumlah partikel mikroplastik pada feses.

Variabel kontrolnya adalah dosis pemberian mikroplastik sebesar 0,084 mg/hari secara oral, jenis dan umur mencit, berat badan awal, jenis kelamin (jantan), jenis pakan, dan durasi perlakuan yang sama.

Pembuatan Ekstrak Daun Dewa

Penelitian ini dimulai dengan proses preparasi daun dewa. Daun dewa diperoleh di Kudus. Pembuatan proses ekstrak daun dewa dimulai dengan proses penimbangan daun dewa segar. Data berat basah daun dewa mendapatkan sebesar 2 kg, kemudian dikeringkan di bawah oven suhu 50°C selama 4 hari. Penggunaan suhu tersebut dipilih untuk mencegah rusaknya zat kimia yang terkandung dalam daun dewa akibat panas yang berlebihan. Proses ini bertujuan untuk mengurangi kadar air yang terkandung pada daun. Kemudian, daun dewa yang telah menjadi simplisia diserbukkan menggunakan blender lalu ditimbang dengan timbangan, sehingga didapatkan berat simplisia sebesar 90 gram.

Simplisia daun dewa yang diperoleh kemudian diekstraksikan menggunakan pelarut etanol 96% perbandingan 1:11 dengan metode maserasi. Metode ekstraksi maserasi dipilih karena pengerjaan dan alat yang digunakan sederhana, dan hasil yang didapat lebih banyak, serta tidak memerlukan pemanasan sehingga dapat menghindari kerusakan zat aktif dan senyawa dalam sampel yang tidak tahan panas akibat suhu tinggi (Wardani & Rachmania, 2017; Satria, 2013; Sa’adah et al., 2015 dalam Wendersteyt dkk., 2021). Senyawa antioksidan biasanya rentan rusak dengan ekstraksi panas, sehingga metode ekstraksi dingin seperti maserasi (Satria, 2013) menjadi pilihan yang lebih baik sebagai metode ekstraksi. Etanol dipilih sebagai pelarut karena bersifat, universal, polar, dan mudah didapat (Trifani, 2012 dalam Wendersteyt dkk., 2021). Alasan penggunaan etanol 96% adalah bersifat selektif, kemampuan absorbsinya baik, mudah menguap, tidak toksik dan memiliki kemampuan pencariannya yang baik sehingga mampu mencari senyawa non-polar, semi polar, dan polar (Wendersteyt dkk., 2021; Adriana et al., 2024). Hasil maserasi disaring menggunakan kertas saring untuk memperoleh filtrat yang kemudian diuapkan menggunakan rotary evaporator dan waterbath suhu 40°C sehingga diperoleh ekstrak daun dewa.

Pengukuran Antioksidan

Setelah dilakukan ekstraksi pada daun dewa, dilanjutkan pengujian aktivitas antioksidan untuk mendukung analisis senyawa yang pernah dilakukan penelitian sebelumnya secara akurat. Pembuatan larutan DPPH dibuat dengan melarutkannya dalam etanol 96% dengan perbandingan 1:1. Pengujian aktivitas antioksidan dilarutkan pada larutan DPPH dengan perbandingan 1:1 menggunakan Spektrofotometer UV-Vis 517 nm. Metode DPPH dipilih karena merupakan metode sederhana, cepat, dan akurat dalam menguji aktivitas antioksidan.

Pembuatan Perlakuan Mikroplastik

Mikroplastik dibuat dengan menggunakan sterofoam berbahan polystyrene (PS) berukuran 0.01 mm. Sterofoam dan pakan pelet tersebut dicampur dengan perbandingan 3:1 lalu dicampur dengan aquades sampai tercampur.

Analisis Kadar MDA

Analisis kadar Malondialdehyde (MDA) dilakukan untuk mengetahui tingkat stres oksidatif pada darah mencit. Pengukuran MDA dilakukan menggunakan metode Thiobarbituric Acid Reactive Substances (TBARS). Pada metode ini, plasma atau serum dicampurkan pada reagen asam trikloroasetat (TCA) dan asam tiobarbiturat (TBA) dengan perbandingan 1:1 sehingga MDA yang terkandung bereaksi membentuk kompleks berwarna merah muda. Kemudian, campuran tersebut diinkubasi menggunakan waterbath pada suhu 95°C selama 45 menit.

Setelah diinkubasi, sampel disentrifugasikan dengan kecepatan 8000 rpm selama 15 menit untuk memisahkan endapan dengan supernatant. Supernatan yang tersisa diambil menggunakan mikropipet yang kemudian diukur absorbansinya menggunakan Spektrofotometer UV-Vis 532,5 nm. Hasil pengukuran nilai absorbansi sampel per kelompok selanjutnya akan diuji secara statistik menggunakan One-Way ANOVA.

Analisis Feses Mencit

Analisis feses dilakukan pada hari ke-0, 7, dan 14. Feses dianalisis menggunakan metode dari Liebmann et al. (2018) dalam Budiarti (2021) yang telah dimodifikasi. Sebanyak 1 gram feses mencit dikumpulkan per kelompok yang ditimbang terlebih dahulu menggunakan timbangan OHAUS kemudian dilarutkan ke dalam 2 ml campuran H2SO4 30% dan H2O2 30%, dengan perbandingan 3:1. Selanjunya, sampel feses dihomogenkan menggunakan vortex selama 2 menit kemudian diinkubasi di suhu ruang selama 24 jam. Sampel yang telah diinkubasi, dipanaskan selama 2 jam menggunakan waterbath dengan suhu 60°C. Sampel didinginkan dan kemudian disaring dengan kertas saring 400 mesh. Sampel yang mengendap dibilas menggunakan NaCl 1% sebanyak 4× pengambilan. Mikroplastik yang mengapung di supernatant disaring menggunakan kertas filter Whatman 01. Setelah itu, kertas filter Whatman 01 dikeringkan selama 24 jam ada suhu ruang lalu diamati menggunakan mikroskop binokuler stereo.

Pengolahan dan Analisis Data

Antioksidan diukur menggunakan metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil) dengan spektrofotometer panjang gelombang 517 nm. Persentase penghambatan radikal bebas DPPH oleh antioksidan sampel dihitung melalui rumus % inhibisi sebagai berikut :
Inhibisi
Keterangan :
Abs. Kontrol = Absorbansi kontrol (DPPH)
Abs. Sampel = Absorbansi sampel (Antioksidan)

Nilai persentase inhibisi dari berbagai konsentrasi akan menentukan efektivitas antioksidan daun dewa melalui nilai IC50 (Inhibition Concentration 50%), yaitu seberapa besar kemampuan konsentrasi sampel dalam menghambat 50% radikal bebas. Menurut A.R Pratiwi H. et al. (2023), menyatakan bahwa kemampuan antioksidan dalam menghambat radikal bebas ditentukan dari persentase inhibisi (aktivitas antioksidan) sebagai salah satu parameternya.

Selama masa perlakuan, mencit akan dicatat kondisi fisiknya dengan menimbang berat badan, sebagai indikator perlakuan. Penimbangan berat badan akan dilakukan saat masa aklimatisasi, sebelum perlakuan, hari ke-6 perlakuan, hari ke-10 perlakuan, dan hari ke-14 perlakuan sebelum diuji kadar MDA yang nantinya tersaji dalam bentuk tabel.

Setelah diberi perlakuan selama 14 hari, dilakukan pengambilan sampel darah pada mencit untuk mengukur kadar MDA (Malondialdehyde) sebagai indikator stres oksidatif akibat dampak paparan mikroplastik. Pemilihan uji ini karena MDA merupakan biomarker yang diterima secara umum dan banyak digunakan dari stres oksidatif (Tsikas, 2023). Data hasil pengukuran kadar MDA dianalisis secara statistik menggunakan software IBM SPSS (Statistical Package for the Social Sciences). Untuk memenuhi syarat uji parametrik, diperlukan pengujian normalitas menggunakan uji Shapiro-wilk dan uji homogenitas varians Levene. Jika data yang terdistribusi normal dan homogen, akan diuji perbedaan maknanya dengan uji parametrik One-way ANOVA (p<0.05). Sedangkan, data yang tidak terdistribusi normal dan homogen, akan diuji perbedaan maknanya dengan uji non parametrik Kruskal Wallis (p≤0.05).

TOP

Hasil Penelitian dan Pembahasan

Pengujian Aktivitas Antioksidan Ekstrak Daun Dewa

Aktivitas antioksidan ekstrak daun dewa diuji menggunakan metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil). Pengukuran absorbansi kontrol DPPH dilakukan terlebih dahulu sebelum menentukan absorbansi sampel. Pengukuran ini bertujuan untuk mengetahui absorbansi awal larutan DPPH sebelum penambahan sampel. Aktivitas antioksidan ekstrak daun dewa dapat dilihat pada tabel 4.1.
Tabel 4.1. Hasil Pengukuran Antioksidan pada Ekstrak Daun Dewa

Absorbansi Kontrol Konsentrasi Sampel (ppm) Absorbansi Sampel % Inhibisi
0.402 1 0.344 14.43
0.402 2 0.317 21.14
0.402 3 0.310 22.89
0.402 4 0.296 26.37
0.402 5 0.278 30.85

Persentase inhibisi didapatkan dari selisih absorbansi kontrol dengan absorbansi sampel kemudian dibagi dengan absorbansi kontrol dan dikalikan 100%. Berdasarkan tabel 4.1 menunjukkan bahwa semakin besar konsentrasi sampel (ppm) semakin tinggi pula persen inhibisinya dan semakin kecil absorbansi sampel.

Inhibisi

Persen inhibisi dari absorbansi kontrol dan sampel serta konsentrasi sampel (ppm) digabungkan bersama dalam grafik sehingga diperoleh persamaan regresi linier yang menyatakan hubungan antara konsentrasi sampel (x) dan nilai IC50 diperoleh dari substitusi nilai 50 pada konstanta y (Muliasari et al., 2023). Berdasarkan grafik di atas (Gambar 4.1) menunjukkan regresi linier yang membentuk garis linier y= 3807x + 11.715 dengan koefisien determinasi (R2) sebesar 0.9675. Koefisien determinasi (R2) yang mendekati 1 menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang besar antara variabel bebas dengan variabel terikat (Ndruru et al., 2014) dalam Muliasari et al., (2023).

Didapatkan persamaan regresi linier melalui grafik persentase inhibisi yang digunakan untuk menemukan nilai IC50. Pengujian aktivitas antioksidan menggunakan Spektrofotometer UV-Vis panjang gelombang 517 nm. Nilai IC50 yang rendah menunjukkan bahwa kandungan antioksidan dalam sampel memiliki aktivitas yang sangat kuat, begitu pula sebaliknya. Setelah dilakukan perhitungan, aktivitas antioksidan pada ekstrak daun dewa memperoleh nilai IC50 sebesar 10.06, sehingga terbukti memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat.

Pengukuran Berat Badan Mencit

Pengukuran berat badan mencit dilakukan saat masa aklimatisasi, sebelum perlakuan, hari ke-6 perlakuan, hari ke-10 perlakuan, dan hari ke-14 perlakuan sebelum diuji kadar MDA. Hasil pengukuran data berat badan mencit yang tersaji dalam tabel 4.3 berikut.
Tabel 4.3. Hasil Analisis Rerata Pengukuran Berat Badan Mencit

Kelompok Aklimatisasi Sebelum perlakuan Hari ke-6 perlakuan Hari ke-10 perlakuan Hari ke-14 perlakuan
KI 27.2 29.0 30.2 31.0 31.9
KII 27.1 28.6 27.6 27.6 26.4
KIII 27.7 29.4 29.8 29.7 29.3
KIV 28.4 28.4 30.4 30.3 30.3

Tabel di atas menunjukkan bahwa berat badan mencit KI mengalami peningkatan berat badan yang konstan hingga hari ke-14. KII cenderung mengalami penurunan berat badan selama masa perlakuan terutama di hari ke-14. Berat badan pada KIII relatif stabil dengan peningkatan di awal, namun mulai terjadi sedikit penurunan di hari ke-10. Berat badan KIV terjadi peningkatan berat badan yang konstan namun menurun di hari ke-14, dan hasil akhirnya paling mendekati normal (KI). Pengujian Kadar MDA

MDA darah diuji menggunakan metode TBARs (Thiobarbituric Acid Reactive Substance). Hasil pengujian kadar MDA darah mencit adalah sebagai berikut:
Tabel 4.4. Hasil Pengujian Kadar MDA pada Darah Mencit
Inhibisi

Berdasarkan tabel tersebut, terlihat bahwa hasil kadar MDA darah mencit menunjukkan variasi antar kelompok perlakuan. Nilai rata-rata kadar MDA tertinggi ditemukan pada KIII (paparan mikroplastik dan ekstrak daun dewa 105 mg/kgBB) sebesar 0.477 nmol/mL. Selanjutnya, diikuti oleh KII (paparan mikroplastik) dengan nilai rata-rata sebesar 0.406 nmol/mL, sedangkan pada urutan ketiga KIV (paparan mikroplastik dan ekstrak daun dewa 210 mg/kgBB) menunjukkan nilai rata-rata sebesar 0.356 nmol/mL. Kadar MDA terdapat pada KI (tanpa perlakuan) dengan rata-rata sebesar 0.348 nmol/mL. Jika dilihat dari rentang data minimum-maksimum kadar MDA minimum terendah ditemukan pada K1 dengan nilai 0.055 nmol/mL, sedangkan nilai maksimun tertinggi ditemukan pada KIII dengan nilai 0.691 nmol/mL.

Perbedaan kadar MDA antar kelompok dapat diamati secara jelas dalam bentuk grafik, sehingga memberikan gambaran visual mengenai hubungan antara kelompok perlakuan dengan rata-rata kadar MDA. Grafik dapat dilihat pada gambar 4.2.
Inhibisi

Uji Normalitas Shapiro-Wilk dan Uji Homogenitas Varians Levene

Untuk melakukan analisis uji parametrik One-way ANOVA, diperlukan pengujian normalitas menggunakan uji Shapiro-wilk dan uji homogenitas varians Levene. Tabel uji normalitas dan uji homogenitas varians disajikan pada tabel 4.5 dan tabel 4.6 berikut.
Tabel 4.5. Hasil Analisis Uji Normalitas Shapiro-Wilk,
Shapiroi
*: batas bawah signifikansi sebenarnya
Tabel 4.6. Hasil Analisis Uji Homogenitas Varians Levene
Homogenitas

Hasil kedua uji di atas memperoleh nilai signifikansi (p-value) >0,05, sehingga data terdistribusi normal dan homogen. Dengan demikian, data telah memenuhi syarat untuk dilakukan analisis lebih lanjut menggunakan uji parametrik One-way ANOVA.

Uji One-way ANOVA

Setelah hasil syarat uji parametrik terpenuhi, dilakukan hasil analisis data dengan uji paramterik One-way ANOVA untuk mengetahui perbedaan kadar MDA darah yang signifikan antar kelompok. Tabel hasil analisis One-way ANOVA didapatkan sebagai berikut:
Tabel 4.7. Hasil Analisis Konsentrasi MDA Antar Kelompok
Inhibisi
*keterangan: p-value < 0,05

Pada tabel 4.7 di atas didapatkan bahwa rerata konsentrasi MDA terendah pada kelompok KI yaitu 0,68 ± 0,36 ppm, sedangkan konsentrasi MDA tertinggi terdapat pada kelompok KIII yaitu 0,94 ± 0,42 ppm. Kelompok KII dan KIV terlihat memiliki konsentrasi MDA (0,82 ± 0,33 ppm dan 0,74 ± 0,33 ppm) lebih tinggi dari KI namun lebih rendah dari KIII. Dilihat dari nilai kemaknaannya, perlakuan yang diberikan tidak berpengaruh signifikan pada konsentrasi MDA karena nilai p= 0,670.

Jumlah Partikel Mikroplastik dalam Feses

Hasil pengamatan jumlah partikel mikroplastik dalam feses sebagai berikut:
Inhibisi
Gambar 4.3. Partikel Mikroplastik dalam Feses di Hari Ke-0: KI (A); KII (B); KIII (C); KIV (D)
Inhibisi
Gambar 4.4. Partikel Mikroplastik dalam Feses di Hari Ke-7: KI (A); KII (B); KIII (C); KIV (D)
Inhibisi
Gambar 4.5. Partikel Mikroplastik dalam Feses di Hari Ke-14: KI (A); KII (B); KIII (C); KIV (D)

Pengambilan dan pengujian feses dilakukan di hari ke-0, hari ke-7, dan hari ke-14 kemudian hasil analisis dari data yang diperoleh disajikan seperti tabel 4.6 berikut.
Tabel 4.8. Jumlah Partikel Mikroplastik dalam Darah
Inhibisi

Berdasarkan tabel 4.8, rerata jumlah partikel mikroplastik tertinggi terdapat KI dengan rerata 53 partikel, diikuti oleh KII dengan rerata 35 partikel, KIII dengan rerata 29,3 partikel, dan yang terendah adalah KIV dengan rerata 25,7 partikel.

Hasil analisis berbanding terbalik di mana KI (kelompok tanpa perlakuan) memiliki peningkatan jumlah partikel mikroplastik terbesar dibandingkan KII dan kelompok lainnya dari hari ke-0 hingga hari ke-14, yaitu 7 partikel menjadi semakin meningkat hingga 89 partikel. Sedangkan, jumlah partikel mikroplastik pada KII meningkat pada hari ke-7 kemudian menurun menjadi 39 partikel pada hari ke-14. KIII menunjukkan pola yang sama seperti pada KI yaitu meningkat pada hari ke-7 dengan 35 partikel dan hari ke-14 dengan 45 partikel. Menariknya pada hari ke-14 jumlah partikel mikroplastik pada KIV cenderung konstan yaitu 32 partikel meskipun memiliki jumlah tertinggi pada hari ke-0 di antara kelompok lainnya.

Pengukuran antioksidan dilakukan secara kuantitatif menggunakan instrumen Spektrofotometer UV-Vis dengan panjang gelombang maksimum berdasarkan nilai absorbansi terbesar DPPH. Panjang gelombang maksimum ini akan memberikan serapan paling optimal yang menyebabkan perubahan serapan pada setiap konsentrasi sampel terdeteksi dengan lebih akurat (Lestari et al., 2020; Nasution et al., 2015) dalam Muliasari dkk., (2023). Panjang gelombang maksimum DPPH sendiri adalah 517 nm. Pengukuran ini diperlukan untuk menentukan nilai IC50 suatu sampel. Konsentrasi inhibisi atau IC50 digunakan untuk mengetahui seberapa besar antioksidan pada suatu larutan dapat menghambat 50% radikal bebas DPPH. Nilai IC50 berbading terbalik dengan aktivitas antioksidan. Semakin kecil nilai IC50 menandakan bahwa senyawa antioksidan didalam sampel tersebut sangat kuat, dan sebaliknya. Semakin besar nilai IC50 maka antioksidan didalam sampel tersebut lemah. Tingkat kekuatan antioksidan dengan metode DPPH dapat dilihat pada tabel 4.2. Hasil pengukuran aktivitas antioksidan (Gambar 4.1) ekstrak daun dewa memperoleh nilai IC50 sebesar 10.06. Nilai IC50 ini menempatkan ekstrak daun dewa pada nilai rendah, sehingga daun dewa terbukti mempunyai aktivitas antioksidan yang sangat kuat. Hasil ini menunjukkan bahwa daun dewa berpotensi besar sebagai sumber antioksidan alami yang efektif dalam menetralkan radikal bebas dan melindungi tubuh dari stres oksidatif.

Dari hasil uji One-way ANOVA didapatkan nilai p= 0,670, karena nilai p>0,05 maka dinyatakan bahwa rerata konsentrasi MDA diantara keempat kelompok tidak berbeda signifikan atau relatif sama. Hasil ini menunjukkan bahwa perlakuan yang diberikan tidak berpengaruh signifikan pada konsentrasi MDA. Uji Post-Hoc tidak dilakukan karena tidak terdapat pengaruh signifikan antar kelompok pada hasil uji One-way ANOVA.

Namun, meskipun uji statistik menunjukkan bahwa perlakuan tidak berpengaruh signifikan pada kadar MDA darah, hasil utama penelitian ini menunjukkan bahwa pada KIV diberi perlakuan mikroplastik dan ekstrak daun dewa 210 mg/kgBB memiliki nilai rata-rata kadar MDA paling mendekati KI, sehingga mengindikasikan bahwa ekstrak daun dewa pada dosis tinggi berhasil menurunkan kadar MDA mendekati normal. Sedangkan, pada KIII yang diberi perlakuan mikroplastik dan ekstrak daun dewa 105 mg/kgBB jutru memiliki rata-rata kadar MDA tertinggi, sehingga diduga jumlah dosis tersebut belum cukup kuat untuk menetralkan radikal bebas pada kadar MDA tersebut.

MDA (Malondialdehyde) merupakan produk akhir dari kerusakan oksidatif yang dipicu oleh radikal bebas pada asam lemak tak jenuh ganda, sehingga menjadikannya sebagai biomarker penting bagi stres oksidatif yang umumnya diukur pada serum dan plasma (Giera et al., 2012; Tsikas, 2023). Stres oksidatif adalah fenomena yang disebabkan oleh ketidakseimbangan antara produksi dan akumulasi spesies reaktif oksigen (ROS) dalam sel dan jaringan dengan kemampuan sistem biologis untuk mendetoksifikasi produk reaktif ini. Stres oksidatif yang diakibatkan oleh gaya hidup juga dapat memainkan peran penting dalam perkembangan kanker (Pizzinno et al., 2017). Menurut Prata (2018) dalam Budiarti (2021) mengungkapkan bahwa mikroplastik bisa mengganggu tubuh manusia secara fisik, kimiawi maupun biologis. Jika tubuh terlalu sering terpapar mikroplastik dalam jumlah banyak, hal ini dapat menyebabkan peradangan pada jaringan tubuh bahkan berisiko menimbulkan sel kanker. Selain itu, partikel mikroplastik yang masuk dan terserap oleh jaringan sel dapat mengendap dan mengganggu proses metabolisme tubuh.

TOP

Kesimpulan

  1. Dengan nilai IC50 sebesar 10.06, daun dewa terbukti mempunyai aktivitas antioksidan yang sangat kuat, yang menunjukkan bahwa kemampuannya baik dalam menghambat radikat bebas DPPH dan berpotensi besar menjadi sumber antioksidan alami yang efektif dalam menetralkan radikal bebas dan melindungi tubuh dari stres oksidatif.
  2. Berdasarkan hasil analisis uji One-way ANOVA, tidak terdapat pengaruh signifikan rerata kadar MDA antar kelompok (p= 0,670) karena nilai p>0,05. Dengan demikian, pemberian ekstrak daun dewa tidak berpengaruh atau relatif sama dalam menetralkan peningkatan kadar MDA yang disebabkan oleh stres oksidatif akibat dampak paparan mikroplastik.
  3. Pengamatan jumlah partikel mikroplastik pada feses menyatakan hasil yang berbanding terbalik dengan hipotesis di mana KI (kelompok tanpa perlakuan) memiliki jumlah partikel mikroplastik tertinggi dibandingkan KII dan kelompok lainnya, serta rerata KIII dari hari ke-0 hingga hari ke-14. Sementara itu, rerata jumlah partikel mikroplastik KII lebih tinggi dari KIII dan KIV, dan rerata jumlah partikel mikroplastik KIV lebih rendah dari KII dan KIII sejalan dengan hipotesis. Hal ini mengindikasikan bahwa ekstrak daun dewa pada dosis besar dapat menekan partikel mikroplastik dalam tubuh.
TOP

Referensi

  1. A.R Pratiwi H, Yusran, Islawati, Artati. (2023). Analisis Kadar Antioksidan pada Ekstrak Daun Binahong Hijau Anredera Cordifolia (Ten.) Steenis. BIOMA: Jurnal Biologi Makassar, 8(2), 66-74.
  2. Adriana U.H., Nofita, Marcelia S. (2024). Uji Aktivitas Kombinasi Ekstrak Etanol Daun Kemangi (Ocimum x africanum Lour.) dan Pandan Wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) Sebagai Antibakteri pada Salmonella typhi. Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan, 11(1), 185-226.
  3. Antarti A.N dan Lisnasari R. (2018). Uji Aktivitas Antioksidan Ektrak Ethanol Daun Family Solanum Menggunakan Metode Reduksi Radikal Bebas DPPH. Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research, 3(2), 62-69. DOI: 10.20961/jpscr.v3i2.15378.
  4. Budiarti. (2021). Indentifikasi Mikroplastik pada Feses Manusia. Environmental Pollution Journal, 1(2), 2776-5296. DOI: https://doi.org/10.58954/epj.v1i2.11.
  5. Giera M., Lingeman H. (2012). Recent Advancements in the LC- and GC-Based Analysis of Malondialdehyde (MDA): A Brief Overview. Chromatographia, 75(9), 433–440. DOI 10.1007/s10337-012-2237-1.
  6. Muliasari H., Hanifa N. I., Hajrin W., Andanalusia M., Hidayati A. R. (2023). Determination of Antioxidants by DPPH Scavenging Activity of Ashitaba Herb (Angelica keiskei) Methanol Extract. Jurnal Biologi Tropis, 23(4): 482-490. DOI: 10.29303/jbt.v23i4.5686.
  7. Pizzino G., Irrera N., Cucinotta M., Pallio G., Mannino F., Arcoraci V., Squadrito F., Altavilla D., Bitto A. (2017). Oxidative Stress: Harms and Benefits for Human Health. Oxidative Medicine and Cellular Longevity, Vol. 2017, 8416763. DOI: 10.1155/2017/8416763.
TOP

Full Text

Untuk membaca versi lengkap dari penelitian ini, Anda dapat mengunduh dokumen PDF di bawah ini:

Unduh Full Text PDF TOP

Dokumentasi Penelitian

TOP